Antalogi Puisi Sapardi Djoko Damono 2017

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono lengkap - Antalogi Puisi Sapardi Djoko Damono Lengkap - puisi yang di ciptakan oleh Sapardi Djoko Damono beserta tanggal pembuatannya - tahun pembuatan - penerbit - penulis - di cetak oleh - judul - cetakan - penyunting - penyelaras bahasa - ilustrasi - ISBN - seri BP no. - tebal - kata pengantar - kumpulan puisi karya dari penyair Sapardi Djoko Damono terlengkap beserta tahunnya - Pada artikel kali akan membahas atau membagikan sebuat tema yang tidak asing lagi bagi para pelajar yaitu tentang antalogi puisi yang mana point di atas sangat di butuhkan oleh para pelajar untuk memenuhi tugas mencari antalogi puisi.

Supaya kalian tidak bingung atau belum mengerti tentang Antologi puisi atau baru mendengarnya, maka saya akan membahas tentang apa itu yang namanya Antalogi Puisi.
Antalogi Puisi adalah Suatu kumpulan puisi pilihan dari sang penyair yang di jadikan dalam satu buku.
Dan pada antologi puisi di artikel ini membahas antalogi puisi dari penyair Sapardi Djoko Damono yang saya ambilkan dari beberapa sumber dari Internet.



Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono lengkap - Antalogi Puisi Sapardi Djoko Damono Lengkap - puisi yang di ciptakan oleh Sapardi Djoko Damono beserta tanggal pembuatannya
Foto dan gambar via Id.wikipedia.org
Berikut puisi-puisi karya dari penyair Sapardi Djoko Damono

AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



AKU INGIN
Oleh / karya :
Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



ANGIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:

ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



ATAS KEMERDEKAAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."
Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,
1982.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


BUAT NING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pasti datangkah semua yang di tunggu
detikdetik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba kita bergegas pada jemputan itu
***




BUNGA, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"

(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....

Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



BUNGA, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan

seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?

soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)

soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CERMIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



CERMIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin;
tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DALAM DOA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada
gerakan, serasa
isyarat) kita pun bertemu
sepasang tiada
tersuling (tiada
gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi.




DALAM BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

langit di kaca jendela bergoyang
terarah kemana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada
***

DALAM DIRI KU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya
***



DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.

Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

DI ATAS BATU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DUA PERISTIWA DALAM SATU SAJAK DUA BAGIAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibas tangis
di pinggir pagar, ada pohon
dan seokor burung
***

GONGGONG ANJING
untuk Rizki
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?" tanya sunyi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HUJAN BULAN JUNI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
***

HUTAN KELABU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu ini
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalan hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
***



KAMI BERTIGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam kamar ini kami bertiga :
Aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata

KEPOMPONG ITU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ketika jarijari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata

suatu pagi, di sayap kupukupu
di sayap warna, suara burung
di rantingranting cuaca
bulubulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bungabunga rekah

ketika jarijari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit meyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata
***




KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,

dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?

Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.

Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.

"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.

Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.

Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu

Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
-- pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)

aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)

aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib

jangan pejamkan matamu:

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu



PADA SUATU HARI NANTI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam baitbait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi diantara larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di selasela huruf sajak ini
kau tak akan letihletihnya kucari
***



PADA SUATU PAGI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja
sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit
berteriak-teriak
mengamuk memecahkan cermin
membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi.
***




PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



PERISTIWA PAGI TADI
kepada GM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.

Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



Sumber : http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.co.id/2009/06/puisi-puisi-sapardi-djoko-damono.html

Sekian artikel kali ini dan semoga bermanfaat

Incoming Search Terms :
kumpulan puisi sapardi djoko damono lengkap
kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf
puisi cinta sapardi djoko damono
musikalisasi puisi sapardi djoko damono
kumpulan puisi sapardi djoko damono perahu kertas
kumpulan puisi sapardi djoko damono download
kumpulan puisi sapardi djoko damono hujan bulan juni

puisi karya sapardi djoko damono dalam doaku
puisi sapardi djoko damono sajak kecil tentang cinta
puisi sapardi djoko damono perahu kertas
puisi sapardi djoko damono dalam doaku
puisi cinta kahlil gibran
puisi cinta chairil anwar
karya sapardi djoko damono
puisi sapardi djoko damono hujan bulan juni

puisi sapardi djoko damono pada suatu hari nanti
puisi cinta sapardi djoko damono
puisi2 sapardi djoko damono
syair sapardi
kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf
kumpulan puisi sapardi djoko damono perahu kertas
kumpulan puisi sapardi djoko damono download
kumpulan puisi sapardi djoko damono hujan bulan juni

musikalisasi puisi sapardi djoko damono
kumpulan puisi karya sapardi djoko damono
perahu kertas sapardi djoko damono pdf
puisi karya sapardi djoko damono tentang cinta
puisi karangan sapardi djoko damono
puisi singkat sapardi djoko damono
sajak cinta karya sapardi djoko damono
puisi supardi djoko darmono

kumpulan puisi sapardi djoko damono lengkap
sapardi djoko damono hujan bulan juni pdf
puisi sapardi djoko damono perahu kertas
puisi sapardi djoko damono pada suatu hari nanti
hujan bulan juni pdf
musikalisasi puisi hujan bulan juni
hujan bulan juni novel
perbedaan dan persamaan puisi hujan bulan juni dengan pantun gurindam dan syair

perbedaan dan persamaan puisi dengan pantun gurindam dan syair

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Antalogi Puisi Sapardi Djoko Damono 2017"

Post a Comment