Mengidentifikasikan nama unsur dalam batuan mineral sangiran Terbaru 2017

Mengidentifikasikan nama unsur dalam batuan mineral sangiran - nama unsur batuan mineral yang ada di sangiran - Banyak sekali unsur terbaru 2017 - Hai Kawan pada artikel Anomika Edukasi kali ini admin akan membagika kepada kalian tentang mengidentifikasi nama unsur batuan mineral di Sangiran.

Unsur bebatuan mineral yang ada di sangiran yang nerupakan gudangnya tempat situs bersejarah yang ada di Indonesia dan juga menjadi museum fosil bersejarah Indonesia.
Mengidentifikasikan nama unsur dalam batuan mineral sangiran
Letak dan posisi dari situs Sangiran yaitu di Kalijambe, Sragen, Kec. Karanganyar, Jawa Tengah dan pada artikel kali ini akan membagikan bebatuan mineral di sangiran.

Untuk lebih jelas nya saya juga membagikan tentang pembahasan batuan mineral mulai dari definisi sampai dengan klasifikasi nya.

1. Mineral

1.1 Definisi dan Klasifikasi Mineral

Mineral didefinisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom di dalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistematis.

Beberapa jenis mineral memiliki sifat dan bentuk tertentu dalam keadaan padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang teratur didalamnya. Kristal secara umum dapat didefinisikan sebagai bahan padat yang homogen yang memiliki pola internal susunan tiga dimensi yang teratur. Studi khusus yang mempelajari sifat-sifat, bentuk susunan dan cara-cara terjadinya bahan padat tersebut dinamakan kristalografi.

Pengetahuan tentang mineral merupakan syarat mutlak untuk dapat mempelajari bagian yang padat dari bumi ini, yang terdiri dari batuan. Bagian luar yang padat dari bumi ini disebut litosfir, yang berarti  selaput  yang terdiri dari batuan, dengan mengambil lithos dari bahasa latin yang berarti batu , dan sphere yang berarti selaput.

1.2  Sifat Fisik Mineral

Terdapat dua cara untuk dapat mengenal suatu mineral, yang pertama adalah dengan melakukan analisis secara kimiawi, dan yang kedua yang paling umum dilakukan adalah dengan cara mengenali sifat-sifat fisiknya. Sifat-sifat fisik mineral antara lain bentuk kristalnya, berat jenis, bidang boleh, warna,  goresan,  kilap, dan  kekerasan.


Bentuk kristal  (crystall form) :
Pembentukan kristal suatu mineral tergantung pada ada atau tidaknya hambatan. Contohnya suatu cairan panas terdiri dari unsur-unsur Natrium dan Chlorit. Selama suhu tetap dalam keadaan tinggi, ion-ion tetap bergerak bebas dan tidak terikat satu dengan yang lain. Jika suhu turun, kebebasan bergeraknya berkurang, mulai terikat dan berkelompok membentuk Natrium Chlorida.

Semakin menurunnya suhu cairan, kelompok tersebut membesar dan membentuk mineral Halit yang padat. Pada umumnya pertumbuhan mineral Kuarsa terbatas, namun bentuknya yang tidak teratur tetap memperlihatkan susunan ion-ionnya dengan struktur kristalnya yang khas berupa prisma bersisi enam. Kristal mineral intan berbentuk segi-delapan atau Oktahedron dan mineral grafit dengan segi enam yang pipih, keduanya mempunyai susunan kimiawi sama, terdiri dari unsure karbon (C). Perbedaan terjadi karena susunan atom karbonnya yang berbeda.

Setiap mineral mempunyai sifat bentuk Kristal yang khas perwujudan kenampakan luar, terjadi sebagai akibat susunan kristal didalamnya. Bentuk-bentuk kristal : Prismatik, Orthorombik, Kubus, Tetrahedral, Heksagonal, Trigonal dll.

 Berat jenis (specific gravity) :

Berat jenis setiap mineral ditentukan oleh unsur-unsur pembentuknya serta kepadatan ikatan unsur-unsur dalam susunan kristalnya.

Bidang belah (fracture) :
Mineral mempunyai kecenderungan untuk pecah melalui suatu bidang yang mempunyai arah tertentu yang ditentukan susunan dalam atom-atomnya, yang merupakan bidang lemah suatu mineral.

Warna (color) :
Meskipun warna bukan menjadi ciri utama untuk membedakan antar mineral, namun terdapat warna-warna khas untuk mengetahui unsur tertentu di dalamnya. Contohnya warna gelap mengindikasikan adanya unsur besi, sedangkan warna terang mengindikasikan kandungan aluminium.

 Goresan pada bidang (streak) :

Beberapa jenis mineral mempunyai goresan pada bidangnya, seperti pada mineral kuarsa dan pyrite yang terlihat jelas dan khas.

Kilap (luster) :
Kenampakan atau kualitas pantulan cahaya dari permukaan suatu mineral. Ada 2 jenis kilap, yaitu kilap Logam dan Non-logam.

Kekerasan (hardness) :
Kekerasan yaitu sifat resistensi dari suatu mineral terhadap kemudahan mengalami abrasi atau mudah tergores. Kekerasan bersifat relatif, maksudnya jika mineral saling digoreskan dengan yang lain maka mineral yang tergores relatif lebih lunak dibanding lawannya.

Skala kekerasan mineral dari yang terlunak (skala 1) hingga terkeras (skala 10) diajukan oleh Mohs dan dikenal sebagai Skala Kekerasan Mohs.

Kekerasan (Hardness)

Mineral

1

Talc

2

Gypsum

3

Calcite

4

Fluorite

5

Apatite

6

Orthoclase

7

Quartz

8

Topaz

9

Corundum

10

Diamond

1.2 Penggolongan Mineral

Berdasarkan senyawa kimianya, mineral dikelompokkan menjadi mineral Silikat dan Non-silikat. Dari 2000 jenis mineral yang dikenal, hanya beberapa yang terlibat dalam pembentukan batuan. Mineral-mineral tersebut dinamakan Mineral Pembentuk Batuan atau Rock Forming Minerals, yang merupakan penyusun utama batuan kerak dan mantel Bumi.

Mineral pembentuk batuan dikelompokkan menjadi empat yaitu Silikat, Oksida,  Sulfida, Karbonat dan Sulfat:

Mineral Silikat
90% mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu seperti batuan beku maupun batuan malihan. Silikat pembentuk batuan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.

Tabel 3.2 Kelompok Mineral Silikat

Mineral ferromagnesium :
Umumnya mempunyai warna gelap atau hitam dan berat jenis yang besar.

Olivine: warnanya yang olive. Berat jenis 3.27- 3.37, tumbuh sebagai mineral yang mempunyai bidang belah yang kurang sempurna.
Augitite: warnanya sangat gelap hijau hingga hitam. Berat jenis berkisar antara 3.2 – 3.4 dengan bidang belah yang berpotongan hampir tegak lurus.
Hornblende: warnanya hijau hingga hitam; Berat jenis 3.2 dan mempunyai bidang belah yang berpotongan dengan sudut antara 56° dan 124° yang sangat membantu dalam cara mengenalnya.
Biotite: mineral mika berbentuk pipih yang dengan mudah dapat terkelupas. Dalam keadaan tebal, warnanya hijau tua hingga coklat-hitam. Berat jenis 2.8 – 3.2.
Mineral non-ferromagnesium
Muskovit : Disebut mika putih karena warnanya yang terang, kuning muda, coklat, hijau atau merah. Memiliki Berat jenis 2,8 – 3,1.
Tabel 3.3 Kelompok Mineral Non-Silikat

Felspar      : Mineral pembentuk batuan yang paling banyak. Dalam bahasa Jerman Feld  adalah lapangan, didalam kerak bumi jumlahnya hampir  54%. Terdapat dua nama yang diberikan kepada felspar yaitu Plagioklas dan ortoklas. Dari nama Plagioklas tersebut dibagi lagi menjadi dua yaitu albit dan anorthit. Dimana arti nama Orthoklas mengandung Kalium, albit mengandung Natrium dan Anorthit mengandung Kalsium.
Orthoklas : mempunyai warna yang khas yaitu abu-abu atau merah jambu dengan Berat jenis 2,57.
Kuarsa : Dapat disebut dengan silika, terbentuk dari senyawa silikon dengan oksigen. Terkadang berwarna smooky, atau berwarna ungu. Nama kuarsa yang seperti itu amethyst. Warna yang bermacam-macam terjadi karena terdapat unsur yang tidak bersih.
4. Mineral Oksida

Terbentuk dari persenyawaan langsung dari oksigen dan tertentu. Dengan susunan lebih sederhana lebih sederhana dari silikat kemudian mineral oksida lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali silikat dan lebih berat kecuali sulfida.  Adapun mineral-mineral oksida yang paling umum adalah korondum (Al2O3), es (H2O), hematit (Fe­2O3) dan kassiterit (SnO2)

                                                hematit

5. Mineral Sulfida

Terbentuk dari persenyawaan antara unsur sulfida seperti perak, tembaga dan merkuri. Beberapa mineral ini memiliki nilai yang ekonomis seperti pirit (FeS2), galena (PbS), dan sphalerit (ZnS).

                                                                        sphalerit

6. Mineral-Mineral Karbonat dan Sulfat

Persenyawaan dari ion (CO3)2- atau yang disebut dengan karbonat. Misal CaCO yang biasa disebut kalsit. Mineral ini merupakan penyusun utama dari mineral sedimen.

                                                karbonat

Kesimpulan tentang Mineral

1. Mineral adalah unsur secara alamiah maupun senyawa anorganik dalam keadaan padat

2. Batuan merupakan agregat yang terbentuk dari kelompok mineral-mineral

3.Persenyawan sangat menentukan dalam pembentukan

4. Struktur kristalin yang khas

5. Dengan sifat fisik tertentu karena susunannya dan struktur yang kristalin

Adapun mineral-mineral yang umum dijumpai dalam batuan beku misal:

1. Olivine : Sekumpulan mineral milikat yang penyusunnya besi (Fe) dan magnesium (Mg). Berwarna hijau, mengkilap, terbentuk di temperatur yang tinggi. Umumnya di temukan di batuan basalt dan ultramafic. Batuan yang mayoritas terdiri dari olivine disebut Dunite.

                                                olivine

2. Amphibole : Kelompok mineral silikat berbentuk prismatik (seperti jarum), berwarna hijau tua kehitaman. Penyusunnya besi (Fe), Magnesium (Mg),  Kalsium (Ca), Alumunium (Al), Silika (Si), Oksigen (O). Banyak ditemui pada batuan metamorf dan batuan beku.

                                                amphibole

3. Biotite : Berbentuk pipih, kristal berlembar, dan merupakan bidang belahan dari mineral biotite. Berwarna hitam atau coklat namun muscovite berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika bersifat lunak dan dapat digores kuku.

                                                Biotite

Plagioclase feldspar: Mineral ini mengandung unsur kalsium atau natrium kristal feldspar berbentuk prismatik, umumnya berwarna putih hingga abu-abu, kilap gelap plagioklas yang mengandung natrium dikenal dengan mineral albite, sedangkan yang mengandung Ca disebut an-orthite.
Potassium feldspar (orthoclase): Seperti halnya plagioclase feldspar, potassium feldspar adalah mineral silikat yang mengandung unsur kalium dan bentuk kristalnya prismatik, umumnya berwarna merah daging hingga putih.
Mica: kelompok mineral silikat dengan komposisi yang bervariasi dari potassium (K), magnesium (Mg), iron (Fe), aluminium (Al), silicon (Si) dan air (H2O).
Quartz: mineral yang umumnya banyak dijumpai pada kerak bumi. Mineral ini tersusun dari silica dioksida (SiO2) berwarna putih, kilap kaca dan belah (cleavage) tidak teratur (uneven) concoidal.
Calcite: tersusun dari calcium carbonate (CaCO3). Umunya berwarna putih transparan dan mudah digores dengan pisau. Kebanyakan dri binatanag laut terbuat dari calcite mineral yang berhubungan dengan lime stone batu gamping.
2. Batuan

Jenis batuan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu Batuan Beku, Batuan Sedimen, dan Batuan Malihan atau Metamorfis. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli menyimpulkan bahwa batuan beku merupakan nenek moyang dari batuan lainnya melalui gambaran tentang permukaan luar bumi yang terdiri dari batuan beku yang seiring dengan berjalannya waktu terbentuklah kelompok-kelompok batuan lainnya. Proses perubahan kelompok batuan menjadi kelompok batuan lain dinamakan daur batuan.

James Hutton menjelaskan bahwa dalam daur batuan tersebut terjadi oleh pendinginan dan pembekuan magma yang berupaka lelehan silikat yang dapat terjadi di bawah atau di atas permukaan bumi melalui erupsi gunung berapi. Saat batuan beku tersingkap di permukaan, maka akan bereaksi dengan atmosfir dan hidrosfir sehingga terjadi proses pelapukan.

Batuan akan mengalami proses penghancuran dan kemudian akan terpindahkan atau tergerak oleh berbagai macam proses alam seperti aliran alir, hembusan angin, gelombang pantai, maupun gletser. Media pengangkut tersebut dikenal sebagai alat pengikis, yang dapat membawa fragmen atau bahan yang larut ke tempat-tempat tertentu berupa sedimen dan berupaya untuk meratakan permukaan bumi. Kemudian terjadi perubahan dari batuan lepas menjadi batuan yang keras melalui pembebanan dan perekatan oleh senyawa mineral dalam larutan menjadi batuan sedimen. Batuan-batuan tersebut akan menyesuaikan dengan lingkungan yang baru sehingga terbentuklah batuan malihan atau metamorfis.

Daur Batuan (Siklus Batuan)

Panah-panah dalam gambar menunjukkan bahwa jalannya siklus dapat terganggu dengan adanya jalan-jalan pintas yang dapat ditempuh, seperti dari batuan beku menjadi batuan metamorfis, atau batuan metamorfis menjadi batuan sedimen tanpa melalui pembentukan magma dan batuan beku. Batuan sedimen dapat kembali menjadi sedimen akibat tersingkap ke permukaan dan mengalami proses pelapukan.

KESIMPULAN :

Mineral adalah zat non-organik padat yang terbentuk secara alamiah, terdiri atas unsur atau senyawa unsur-unsur yang mempunyai susunan kimia tertentu dan struktur internal kristal beraturan
Mineral pembentuk batuan yaitu Mineral Silikat, Oksida,  Sulfida, Karbonat dan Sulfat.
Batuan adalah bagian dari kerak bumi yang dapat terdiri atas agregat kohesif salah satu atau lebih mineral, atau bahan-bahan mineral. Dapat diartikan bahwa batuan terdiri atas banyak butiran mineral kristal dan silika ,yang semua mineral tidak harus sama kemudian yang bersatu sebagai massa padat.
Siklus batuan adalah sebagai berikut Magma yang membeku membentuk Batuan Beku. Batuan beku yang berada di permukaan bumi akan mengalami Proses Sedimentasi > Pelapukan, Erosi, Transportasi, Pengendapan, Kompaksi, Sementasi dan akhirnya akan terbentuk Batuan Sedimen. Sedangkan Batuan Metamorf dihasilkan oleh Batuan Beku yang berada di dalam bumi lalu terkena tekanan dan suhu yang tinggi sehingga merubah komposisi mineral di dalamnya membentuk Batuan Metamorf. Selain itu, Batuan Metamorf juga dapat dihasilkan oleh Batuan Sedimen yang dibawa ke dalam bumi oleh proses dinamika bumi, misalnya proses Subsduksi Lempeng. Di dalam bumi Batuan Sedimen akan terkenal tekanan dan suhu yang tinggi menjadi Batuan Metamorf. Jika pengaruh tekanan dan suhu sangat tinggi sehingga melewati titik leleh batuan, maka batuan itu akan meleleh menjadi magma.

Sumber : https://askiravistara.wordpress.com/2013/09/28/mineral-dan-batuan/

Dan berikut adalah formasi bebatuan mineral di sangiran yang informasi nya saya ambilkan dari internet.

    A.   Tujuan
1.               Untuk memenuhi tugas kuliah kerja lapangan mata kuliah Geologi.
2.               Untuk mengetahui lokasi situs Sangiran di Sragen Jawa tengah.
3.               Untuk mengetahui karakteristik batuan yang meliputi Geologi, Paleontologi, dan biologi serta cirri-ciri spesifik dari batuan tersebut.

B.   Landasan Teori
Sangiran adalah sebuah desa di kelurahana Krikilan Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen,  Provinsi Jawa Tengah. Desa tersebut dikenal sebagai situs prasejarah yang kaya dengan temuan fosil manusia dan hewan purba. Selain itu di Sangiran juga banyak ditemukan alat-alat batu peninggalan manusia prasejarah yang dulu pernah hidup disana.
Situs Sangiran terletak kira-kira 15 km di sebelah utara kota Surakarta. Situs ini luas arealnya kira-kira 6x15 km. sebagai suatu situs sebagian arealnya terletak di wilayah kabupaten sragen, sebagian lagi terletak di wilayah kabupaten Karanganyar.
Situs ini pernah diteliti oleh berbagai ahli dengan latar belakang yang berbeda. Disiplin Paleoantropologi dan Paleontologi memusatkan penelitian pada temuan fosil-fosilnya, disiplin geologi pada struktur dan stratigrafinya.

Bentang alam Sangiran secara umum dapat dibedakan atas satuan morfologi perbukitan dan satuan morfologi dataran. Dalam bentang alam tersebut mengalir 2 buah sungai besar yaitu kali Cemoro dan kali Ngrejeng. Kali Cemoro merupakan sungai terbesar di daerah ini yang mengalir dari barat ke timur membelah sayap kubah Sangiran sampai pusat kubahnya. Aliran sungai ini hamper memotong semua batuan di tempat-tempat yang dilaluinya dari yang tertua sampai yang termuda. Sungai besar lainnya yaitu kali Ngrejeng yang mengalir di daerah sangiran sebelah utara. Sungai ini memotong sayap utara sebelah utara kubah Sangiran dan membelah satuan breksi laharik formasi kabuh dan satuan batu lempung serta Napal dari formasi Pucangan.
Satuan morfologi dataran membentang disekeliling daerah Sangiran dan tersusun oleh breksi laharik formasi Notopuro. Satuan dataran yang lain tersebar di lembah-lembah kali Cemoro, kali Ngrejeng dan kali Kedungdowo. Satuan litologinya berupa endapan alluvial.
Satuan morfologi perbukitan tersebar mengelilingi daerah Sangiaran berupa bukit-bukit kecil yang diselingi oleh dataran sempit. Satuan ini juga tampak pada daerah-daerah tebing terjal yang merupakan perbatasan antara formasi Notopuro dan formasi Kabuh.
Satuan perbukitan yang lain terdapat pada bagian dalam kubah Saniran (Sangiran Dome). Pada daerah ini satuan perbukitan telah tersingkap membentuk lembah yang luas.
Pada bagian tengah kubah Sangiran terdapat sebuah bukit kecil yang terbentuk oleh aliran lahar dari formasi Pucangan bawah. Di kanan kiri bukitb tersebut terdapat cekungan yang berisi endapan lempung laut dari formasi kalibeng.
Stratigrafi daerah Sangiran menurut GHR Von Koenigswald terbagi atas formasi Kalibeng, formasi Pucangan, formasi Kabuh dan formasi Notopuro. Umur formasi-formasi tersebut dari tua ke muda menurut J. Duyffjes adalah ; Kala Pliosen untuk formasi Kalibeng, Kala Plestosen bawah untuk formasi Pucangan, Kala Plestosen tengah untuk formasi Kabuh sampai Notopuro.

C.   Data
1. Stasiun Pengamatan Ke-1
·         Nama wilayah/desa/dusun : Kecamatan Kalijambe , Kabupaten Sragen
·         Posisi Geografis : dukuh Ngampon, desa Krikilan
·         Formasi : Pucangan
·         Umur Geologi : 1,8 juta -900ribu tahun yang lalu (plestosen bawah)
Ø  Karakteristik ( batuan : beku, sedimen, metamorf )
ü  Geologi :
a.       Pelapisan : Pucangan
b.      Warna : Abu-abu muda sampai tua, apabila lapuk berwarna hitam.
c.       Struktur : datar yang terdiri atas lapisan breksi vulkanik bawah dan lempung hitam.
ü  Paleontologi ( paleobotany, paleozoology)
a.       Paleobotany : fosil pollen yang ditemukan antara lain : jenis Graminae, Cyperaceae, Arboreae, Taxa, Choenopodiaceae, Taxodiaceae, Typhatsuga, Floshuetzia, Myrtaceae, Rhizophora, Podocarpus, Castanosis, Pinus, Sparganium, Alnum dll.
b.      Paleozoology : didominasi binatang reptile, fosil-fosil mollusca laut seperti Anadara, Balanus, Conus, murex, Archa, dan temuan gigi ikan hiu.

ü  Biologi
Dulunya formasi pucangan merupakan hutan bakau / rawa payau yang dibuktikan dengan ditemukannya fosil molusca laut dan reptile.
Ø  Karakteristik spesifik / unik formasi
Terdapat lempung mollusca yang membatasi antara lempung hitam dan lapisan breksi vulkanik

2.  Stasiun Pengamatan Ke-2
·         Nama wilayah/desa/dusun : Kecamatan Kalijambe , Kabupaten Sragen
·         Posisi Geografis : dukuh Ngampon, desa Krikilan
·         Formasi : Pucangan
·         Umur Geologi : 1,8 juta -900ribu tahun yang lalu (plestosen bawah)
Ø  Karakteristik ( batuan : beku, sedimen, metamorf )
ü  Geologi :
a.       Pelapisan : Pucangan
b.      Warna : lempung hitam dan lempung putih (diatome)
c.       Struktur : miring , karena pada saat pengerosian terjadi pengikisan dan penyempitan lahan dari tenaga eksogen.
ü  Paleontologi ( paleobotany, paleozoology)
a.       Paleobotany : fosil pollen yang ditemukan antara lain : jenis Graminae, Cyperaceae, Arboreae, Taxa, Choenopodiaceae, Taxodiaceae, Typhatsuga, Floshuetzia, Myrtaceae, Rhizophora, Podocarpus, Castanosis, Pinus, Sparganium, Alnum dll.
b.      Paleozoology : didominasi binatang reptile, fosil-fosil mollusca laut seperti Anadara, Balanus, Conus, murex, Archa, dan temuan gigi ikan hiu.
ü  Biologi
Dulunya formasi pucangan merupakan hutan bakau / rawa payau yang dibuktikan dengan adanya diatome yang merupakan ganggang laut yang membatu.
Ø  Karakteristik spesifik / unik formasi
Terlihat pengendapan lapisan-lapisan secara bertahap dengan jelas.

3.  Stasiun Pengamatan Ke-3
·         Nama wilayah/desa/dusun : Kecamatan Kalijambe , Kabupaten Sragen
·         Posisi Geografis : dukuh Ngampon, desa Krikilan
·         Formasi : Kalibeng
·         Umur Geologi : 2 juta -1,8 juta tahun yang lalu (pliosen)
Ø  Karakteristik ( batuan : beku, sedimen, metamorf )
ü  Geologi :
a.       Pelapisan : kalibeng
b.      Warna : abu-abu kebiruan
c.       Struktur : datar
ü  Paleontologi ( paleobotany, paleozoology)
a.       Paleobotany : ditemukan tumbuh-tumbuhan jenis : Melastomataceae, Rhizophara, Pandanus, Palme, Calophyllus, Anacardiceae, Calamus, Caswarina, Arborsal euphorbiaceae, Podocarpus mimosaceae, Gramineae, Cyperaceae dll
b.      Paleozoology :  ditemukan fosil berupa foraminifera dan mollusca laut.
ü  Biologi
Dulunya formasi kalibeng merupakan lautan dengan ditemukannya fosil foraminifera dan molusca laut serta rasa air yang asin.
Ø  Karakteristik spesifik / unik formasi
Airnya mengandung garam dan terdapat kubangan yang berisi air dengan PH=8  serta adanya gelembung-gelembung gas.

4.  Stasiun Pengamatan Ke-4
·         Nama wilayah/desa/dusun : Kecamatan Kalijambe , Kabupaten Sragen
·         Posisi Geografis : dukuh Ngampon, desa Krikilan
·         Formasi : situs mad volcano (Notopuro)
·         Umur Geologi : 1,9 juta -1,7 juta tahun yang lalu (plestosen tengah)
Ø  Karakteristik ( batuan : beku, sedimen, metamorf )
ü  Geologi :
a.       Pelapisan : Situs mad vulcano
b.      Warna : coklat keabu-abuan
c.       Struktur : tidak beraturan
ü  Paleontologi ( paleobotany, paleozoology)
Tidak ditemukan fosil
ü  Biologi
Dulunya formasi notopuro merupakan gunung merapi purba  dan merapu purba yang meletus dengan menyisakan material batuan mengendap dan membeku di situs sangiran sehingga tidak ditemukan fosil hewan dan tumbuhan.
Ø  Karakteristik spesifik / unik formasi
    Terdapatnya batu asahan sebagai akibat dari lahar dingin yang bercampur dengan lempung dan batuan.

5.      Stasiun Pengamatan Ke-5
·         Nama wilayah/desa/dusun : Kecamatan Kalijambe , Kabupaten Sragen
·         Posisi Geografis : dukuh Ngampon, desa Krikilan
·         Formasi : Kabuh
·         Umur Geologi : 900ribu -200ribu tahun yang lalu (plestosen tengah)
Ø  Karakteristik ( batuan : beku, sedimen, metamorf )
ü  Geologi :
a.       Pelapisan : kabuh
b.      Warna : kuning
c.       Struktur : berlapis
ü  Paleontologi ( paleobotany, paleozoology)
a.       Paleobotany : fosil pollen yang ditemukan antara lain : podocarpus, Graminae, Cyoeracae, Myrtaceae, Cerpinus, Cardocarpus, Taxodiae, sedangkan spora yang ditemukan berasal dari jenis Pteridophyta, Monolete, Trilete, Verucatosporite.
b.      Paleozoology : fosil elephantids, rhinoserus, bovidae, buaya, kura-kura, rattus dll.
ü  Biologi
Formasi kabuh merupakan daratan asli daerah sangiran yang dihuni oleh manusia purba yaitu phytecantropus erectus, phytecantropus dubois dengan ditemukannya tulang femur dan atap tengkorak serta ditemukannya fosil alat-alat batu oleh GHR Von Koenigswald.


Ø  Karakteristik spesifik / unik formasi
    Masih berupa daratan aslinya di daerah sangiran dan merupakan dataran tertinggi di daerah sangiran

D.   Pembahasan
1.      Formasi Pucangan
Formasi ini terletak di dukuh Ngampon, desa Krikilan, Kecamatan Klaijambe dan  Kabupaten Sragen. Formasi Pucangan ini terdiri dari dua satuan litologi yaitu satuan breksi laharik dan satuan napal bercampur batu lempung. Ketebalan formasi ini mencapai 157,5 m. sedang umur formasi ini adalah plestosen bawah ( 1,8juta-900ribu).
 Satuan breksi laharik, terbentuk akibat pengendapan banjir lahar hujan yang diselingi pengendapan sungai normal dilingkungan air payau. Ketebalan satuan ini berkisar antara 0,7-46 m. satruan ini termasuk Formasi Pucangan Bawah, berumur Plestosen Bawah. Kandungan fosil pada lapisan ini sangat jarang. Namun diantaranya ditemukan sedikit fosil moluska laut jenis anadara, korbicula, dan murex.
Satuan napal dan batu lempung,  termasuk Formasi Pucangan Atas, yang berumur plestosen bawah. Satuan ini berwarna abu-abu muda sampai  tua, yang bila lapuk berwarna hitam. Ketebalan lapisan ini mencapai 113,5 m. pada satuan ini ditemukan tiga horizon moluska laut yang bercampur dengan gigi ikan hiu, yang menandakan bahwa pada masa itu pernah terjadi transgresi laut, meskipun mungkin kejadiannya sangat singkat.
Moluska laut yang lain ditemukan berasosiasi dengan kayu, belerang, peat, bulus dan buaya yang menunjukkan lingkungan payau-payau tepi laut. Selain horizon moluska laut, ditemukan juga lapisan tanah Diatome  yang berwarna putih kecoklatan, dengan penyebaran yang cukup lama.

2.      Formasi Kalibeng
Formasi ini terletak di dukuh Ngampon, desa Krikilan, Kecamatan Klaijambe dan  Kabupaten Sragen. Umur formasi ini adalah Pliosen (2 juta -1,8 juta tahun yang lalu). Persebaran Dormasi Kalibeng ditemukan disekitar Kubah Sangiran, dan membentuk perbukitan yang landai. Ketebalan formasi ini mencapai 126,5 m. satuan litologinya berupa lempung abu-abu kebiruan setebal 107 m, pasir lanau setebal 4,2 – 6,9 m, batu gamping balanus setebal 0 - 10,1M.
Pada formasi ini banyak ditemukan fosil-fosil Foraminifera dan Moluska laut. Antara lain ditemukan : arca (anadara), arcitectonica, lopha (alectryonia), Conus, Mirex, Chlamis, Pecten, Prunum, Turicula, renella spinoca, anomia, arcopsis, linopsis, dan turitella acoyana. Fosil-fosil tersebut merupakan ciri dari lingkungan pengendapan laut dangkal.

3.      Formasi Notopuro ( mad volcano)
Formasi notopuro terletak secara tidak selaras diatas formasi kabuh dengan ketebalan sekitar 47 M. satuan litologinya berupa : kerikil, pasir, lanau, lempung, air tawar, lahar pumisan dan tuf. Lapisan lahaar yang terkandung dalam lapisan ini, berdasarkan letaknya dibagi 3 yaitu : lapisan lahar atas, lapisan lahar teratas dan lapisan pumiceatas. Berdasarkan adanya lapisan lahar tersebut, formasi notopuro dibedakan menjadi 3 : formasi notopro bawah, formasi notopuro tengah dan formasi notopuro atas.
Lapisan notopuro bawah dimulai lapisan lahar atas sampai lapisan lahar teratas, dengan ketebalan antara 3,2- 2,89 M. Kandungan litologinya berupa pasir tufan dengan kerikil fluvial, lanau, lempung, fragmen kerikil andesit dan formasi tuf andesit.
Formasi notopuro tengah mulai muncul pada lapisan lahar atas sampai lapisan lahar teratas, dengan ketebalan maksimum 20M. formasi ini mengandung pasir bercampur  kerikil dan lanau tufan, kecuali pada lapisan lahar yang terletak didasar. Pada formasi ini tidak ditemukan fosil mammalian sama sekali.
Formasi notopuro atas dimulai dari lapisan pumiceatas secara tidak selaras terletak diatas formasi notopuro tengah dan bawah, ketebalan formasi ini mencapai 25 M dan tersebar di daerah sangiran sebelah utara dan daerah sangiran sebelah timur. Kandungan litologinya berupa tuf dan bola-bola pumisan.

4.      Formasi Kabuh
Formasi ini terletak di dukuh Ngampon, desa Krikilan, Kecamatan Klaijambe dan  Kabupaten Sragen. Umur formasi ini adalah Plestosen  atas sampai plestosen tengah (900ribu-200ribu tahun yang lalu).
Formasi kabuh mempunyai ketebalan 5,8 – 58,6 M. lapisan ini mempunyai kandungan litologi berupa lempung lanau , pasir, besi dan kerikil. Satuan litologi tersebut ditemukan berselang- seling dengan lapisan konglomerat dan batu lempung vulkanik (tuf). Dibawah lapisan ini ditemukan lapisan batu pasir, konglomerat “calcareous” dengan ketebalan lebih dari 2M yang merupakan ciri lingkungan transisi antara lautan dan daratan.
Lapisan tuf yang terkandung dalam formasi kabuh dibedakan atas lapisan tuf  bawah, tuf tengah, dan tuf atas. Lapisan tuf bawah terletak pada formasi kabuh dengan ketebalan 4,2 – 20 M, lapisan tuf tengah terdapat pada formasi kabuh dengan ketebalan 5,8 – 20M, dan lapisan tuf atas pada formasi kabuh atas dengan ketebalan 3,4-16M.
Kandungan fosil formasi kabuh meliputi hewan vertebrata dan moluska air payau. Fosil vertebrata yang ditemukan antara lain : bovidae, babi, buaya, bulus, banteng, gajah dan rusa. Sedang fosil moluska air payau yang ditemukan meliputi astartea, melania, dan corbicula. Selain itu ditemukan pula fosil cetakan daun.

E.    Simpulan dan Saran
Ø  Simpulan :
1.      Situs sangiran terletak disebuah desa di kelurahana Krikilan Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.
2.      Situs Sangiran terletak kira-kira 15 km di sebelah utara kota Surakarta. Situs ini luas arealnya kira-kira 6x15 km. sebagai suatu situs sebagian arealnya terletak di wilayah kabupaten sragen, sebagian lagi terletak di wilayah kabupaten Karanganyar.
3.      Berdasarkan study lapangan mata kuliah geologi, dalam situs sangiran terdapat 5 formasi antara lain : Formasi Pucangan Atas, Formasi Pucangan Bawah, Formasi Kalibeng, Formasi Notopuro (mad vulkano) dan Formasi Kabuh.
Ø  Saran
1.      Alternative jalan menuju masing-masing formasi sebaiknya diberi jalan khusus sehingga pengunjung lebih mudah menjangkau formasi tersebut.
2.      Untuk panitia, menejemen waktunya dioptimalkan lagi.
3.      Dalam perjalanan menuju formasi kabuh, panitia sebaiknya menyediakan transportasi khusus untuk pengunjung karena lokasi yang terlalu jauh.

F.    Daftar Pustaka

Moelyadi dan Widiasmoro. 1978. Laporan Penyelidikan Biologi Daerah Sangiran Jawa Tengah. Yogyakarta : Bagian Tehnik Geologi Fakultas Tehnik UGM.

Soerdjono, R.P. ed. 1975. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Soerastopo Hadisumarno. 1972. Geomorfologi Pergunungan Kubah Sangiran Jawa, Indonesia. Reprinted from the journal ilmu alam.

Widiasmoro. 1982. Lingkungan Pengendapan Formasi Pucangan dan Kabuh, serta Hubungannya dengan Penafsiran Daerah Pemukiman Phitecanthropus di Sangiran Jawa Tengah. Jakarta : Proyek Penelitian Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber : http://science-bob.blogspot.co.id/2012/06/formasi-batuan-di-sangiran.html

Sekian artikel dari saya dan semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengidentifikasikan nama unsur dalam batuan mineral sangiran Terbaru 2017"

Post a Comment